 |
| freepik, university students exchanging book |
Remaja,
masa-masa ini sudah tak asing bagi kita menyaksikan prilaku-prilaku yang
kurang, bahkan bisa dibilang tidak etis sama sekali. Di televisi, radio, atau
bahkan juga tak jarang kita menyaksikan lansung minimnya adab dan ahklak, moral
dan etika. Baik itu di kalangan remaja, anak di bawah umur, bahkan dewasa, yang
semestinya sudah patut menjadi contoh bagi kalangan muda.
Hal
ini sangat menarik perhatian, miris memang. Beberapa di antara kita juga banyak
yang merindukan masa lalu dimana meskipun ada yang berprilaku buruk, tidak
sepantasnya, tetapi tidaklah semenjamur sekarang. Ibarat sebuah lantai pijakan,
masih lebih banyak yang bersih ketimbang yang bernoda. Itupun, bagi seorang
yang peka dan melihanya, segera membersihkannya kembali. Artinya, tindakan
reflektivitas yang dilakukan seseorang untuk menegur masih dihargai.
Begitu
mirisnya, bahkan hingga hari ini. Amat sangat banyak kita melihat dan mendengar
berita di berbagai media. Juga bahkan ada di lingkungan kita sendiri. berbagai
macam kasus, baik kekerasan atau pelecehan, pencurian jenis kecil atau besar,
dan lain sebagainya yang dilakukan secara terang-terangan. Yang bahkan jikapun
ada yang berani menegur, justru akan mendapatkan imbalan terbalik dari sebuah
perbaikan.
Beberapa
kasus contoh yang dapat kita ambil sebagai bahan pembicaraan adalah bagaimana
seorang atau sekelompok remaja, yang dulunya sangat menghargai seragam mereka, punya malu untuk melakukan
tindakan-tindakan tak senonoh, masih memiliki rasa segan terhadap orangtua, dan
bersembunyi-sembunyi ketika melakukan kesalahan. Bukan berarti membenarkan
prilaku menyimpang yang dilakukan secara bersembunyi, tetapi poinnya adalah
kesadaran akan perbedaan mana yang benar dan mana yang salah.
Remaja
memang tidak akan dapat putih dari noda
kenakalan. Hal ini sudah lumrah memang, tetapi ada baiknya kita melakukan
observasi dan perbaikan pada kasus-kasus ini. Berkurangnya kegiatan-kegiatan
aktif positif menjadi salah satu penyebab terjadinya. Dulu, anak-anak masih
bermain berlarian ke sana dan kemari dan mudah dikontrol oleh siapa saja dewasa
yang lalu lalang. Ketika ada seorang atau sekelompok anak yang melakukan
kesalahan, orang dewasa yang menyaksikan masih bisa menegur dan atau
menyampaikan kepada orangtua mereka. Orangtua masih lapang hati menerima dan
turut menasihati anaknya. Kendati demikian terus terjadi, pengawasan masih
dilakukan baik secara personal ataupun umum. Sehingga masih timbul rasa takut
dan segan untuk melakukan kesalahan. Artinya, masih ada kontrol di sana.
Sedangkan
masa sekarang, justru banyak orang yang telah kehilangan wibawa untuk sekedar
menegur remaja atau anak-anak yang melakukan kesalahan. Anak 4 tahun sudah bisa
mengajak teman lawan jenisnya untuk
praktek dewasa dengan sebutan “main” di sebuah taman bermain, anak
remaja sudah melakukan hal-hal tidak senonoh di ruang-ruang terbuka; seperti di
taman, dan bahkan di halaman rumah mereka sendiri. sekelompok remaja
mengkeroyok remaja lainnya di gang sempit dimana masih ada orang dewasa yang
lalu-lalang tetapi juga tidak bekutik, siswa siswa kelas VII memiliki whatshapp group yang isinya link,
cerita, dan bahkan video porno, dan masih banyak kasus lainnya. Sangat mengerikan,
lantas mengapa demikian?
 |
| freepik, medium shot kids in bed with smartphone |
Anak
sekarang jauh lebih pintar dari anak-anak zaman dulu. Saya selalu berkata: “kesalahan pada orangtua adalah selalu
menganggap anaknya kecil dan memiliki keterbatasan dalam berpikir sesuai usia
mereka”, faktanya, zaman sekarang ini sudah sangat dekat dengan berbagai
informasi yang bebas saringan. Anak-anak dan remaja sudah memiliki media dan
ruangnya sendiri. sebab itu, orangtua dituntut untuk lebih pintar dan menguasai
kemajuan media.
 |
| pict by pressfotogroup of young asian people sitting in street and using smartphones |
 |
| freepik, mother and daughter using tablet on couch |
Meskipun
mereka terkesan anteng tetapi
teruslah melakukan kontrol terhadap keluarga anda. Sadari tentang
pikiran-pikiran sehat dan terbuka sehingga dapat membangun ketersalingan antara
anggota keluarga. Tentu mengontrol prilaku dimulai dari rumah. Sebagian pendapat mengatakan bahwa prilaku
dibentuk dari sekolah dan lingkungan karena lebih banyak waktu digunakan untuk
itu. Benar, tetapi persentase hak terbesar dalam pembentukan itu adalah rumah. Yang
dapat melatih dan mengontrol tanpa batasan, dan mengapa kita sebagai orangtua
juga tidak menyediakan waktu yang banyak juga untuk mereka?
Bicara
tentang adab dan ahklak, moral dan etika. Kita adalah orang dewasa yang sudah
menjadi orangtua di abad ini. Kitalah yang akan membentuk karakter masa depan,
dengan kemajuan kita sesuai dengan yang telah kita hadapi. Jangan biarkan lagi
generasi lepas control ini menjadi padang
yang luas, sehingga kemanapun mata kia memandang, kita akan terus melihat
kesalahan.
Sebuah pepatah mengatakan bahwa adab lebih tinggi
daripada ilmu. Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW juga mengatakan bahwa
beliau diutus dengan tujuan menyempurnakan adab manusia. إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَتِمَ
صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang baik." (HR. Bukhari, Baihaqi, dan Hakim)
Adab
adalah norma aturan mengenai sopan santun yang dilandaskan atas aturan agama
yang digunakan dalam hubungan sosial antar manusia. Orang yang beradab adalah
orang yang mengetahui aturan tentang adab itu sendiri. adab merupakan ahklak
yang baik yang dimiliki oleh seseorang.
Sedangkan moral adalah sebuah perangai dari
watak yang menjadi tabiat. Tabiat-tabiat itulah yang akan muncul dalam bentuk
prilaku. Manusia-manusia yang bermoral adalah manusia-manusia yang dalam tindakannya
memiliki nilai positif. Moral sangat berhubungan dengan proses sosialisasi
individu. Artinya, tanpa moral seseorang akan gagal daam melakukan proses sosialisasi.
Moral merupakan suatu tata nilai yang menjadikan seorang manusia dapat berprilaku
baik dan tidak merugikan orang lain.
Etika merupakan ilmu tentang sikap dan
kesusilaan seseorang dalam lingkungan sosial. Etika merupakan sesuatu yang
sangat terkait dengan prilaku baik yang dianggap benar. Etika memiliki norma, kaidah, dan tatacara
yang dijadikan pedoman untuk prilaku seseorang. Etika sangat dibutuhkan dalam
hubungan sosialisasi bersama siapapun dan dimanapun. Tidak ada pengecualian
untuk beretika.
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan
bahwa adab merupakan bentuk ahklak yang baik, sopan dan santun. Sedangkan moral
adalah standar seseorang dalam berprilaku dan bernilai positif dehingga tidak
merugikan oranglain. Etika merupakan
pedoman ilmu dalam bersikap.
Misalnya, seseorang yang beradab tentu akan
bersikap sopan dan santun serta memiliki rasa malu jika melakukan kesalahan,
itu sebabnya ia akan menunjukkan prilaku baik. Prilaku baik tersebut memiliki
nilai moral karena tidak merugikan orang lain, tetapi sebaliknya. Ia justru
memunculkan rasa nyaman dalam hubungan sosialisasi dan dihargai. Jikapun ia
melakukan kesalahan, kemudian ia melakukan permintaan maaf dan mengakuinya,
serta tidak mengulannginya lagi, itulah yang disebut beretika.
Jadi? Jadilah generasi yang selalu mengaitkan
diri dengan dengan adab, norma, dan etika dan orangtua yang andil dalam
membangun ketiganya, sehingga kita semua dapat mengontrol sikap dalam mengambil
suatu keputusan, baik itu untuk diri sendiri, sosial, atau bahkan bernegara. Karena
perubahan terjadi dari diri sendiri, dan perubahan besar akan terjadi dimulai
dari kesadaran akan membedakan kebenaran dan kesalahan.
Zaman sekarang, pengaruh buruk sudah bertaburan dimana-mana. Sebab itu, kitalah yang paling harus mawas diri. Memiliki kesadaran dan pengukuran diri
sangatlah penting. Miliki rasa malu, segan, dan hormat terhadap orangtua. Dan miliki
rasa malu jika gegabah dalam bersikap sehingga hilang kontrol adab, norma, dan
etika karena akan merusak generasi. Terus belajar memantaskan diri, dan
kendalikan. Dengan demikian kita dapat memperbaiki generasi. Allah SWT selalu
melihat apa-apa yang kita kerjakan.
Ilmu memanglah sangat penting untuk bekal dalam
bekerjasama dan bersaing, memecahkan persoalan sehingga mampu memberikan
solusi. Apapun cabang ilmunya, sesungguhnya memiliki manfaat yang berbeda-beda.
Tetapi jangan pula membiarkan ilmu menguasai sesuatu yang lebih berharga dari
dalam diri. Tanpa adab, norma, dan etika, ilmu tidaklah berarti apa-apa. Karena
seseorang akan kehilangan harga dirinya, sekalipun ia pintar dan terkenal, jika
sudah kehilangan ketiganya.