Pupular Post

Tampilkan postingan dengan label dan etika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dan etika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Oktober 2023

Remaja beradab, bermoral dan beretika

 

freepik, university students exchanging book

Remaja, masa-masa ini sudah tak asing bagi kita menyaksikan prilaku-prilaku yang kurang, bahkan bisa dibilang tidak etis sama sekali. Di televisi, radio, atau bahkan juga tak jarang kita menyaksikan lansung minimnya adab dan ahklak, moral dan etika. Baik itu di kalangan remaja, anak di bawah umur, bahkan dewasa, yang semestinya sudah patut menjadi contoh bagi kalangan muda.

Hal ini sangat menarik perhatian, miris memang. Beberapa di antara kita juga banyak yang merindukan masa lalu dimana meskipun ada yang berprilaku buruk, tidak sepantasnya, tetapi tidaklah semenjamur sekarang. Ibarat sebuah lantai pijakan, masih lebih banyak yang bersih ketimbang yang bernoda. Itupun, bagi seorang yang peka dan melihanya, segera membersihkannya kembali. Artinya, tindakan reflektivitas yang dilakukan seseorang untuk menegur masih dihargai.

Begitu mirisnya, bahkan hingga hari ini. Amat sangat banyak kita melihat dan mendengar berita di berbagai media. Juga bahkan ada di lingkungan kita sendiri. berbagai macam kasus, baik kekerasan atau pelecehan, pencurian jenis kecil atau besar, dan lain sebagainya yang dilakukan secara terang-terangan. Yang bahkan jikapun ada yang berani menegur, justru akan mendapatkan imbalan terbalik dari sebuah perbaikan.

Beberapa kasus contoh yang dapat kita ambil sebagai bahan pembicaraan adalah bagaimana seorang atau sekelompok remaja, yang dulunya sangat menghargai seragam mereka, punya malu untuk melakukan tindakan-tindakan tak senonoh, masih memiliki rasa segan terhadap orangtua, dan bersembunyi-sembunyi ketika melakukan kesalahan. Bukan berarti membenarkan prilaku menyimpang yang dilakukan secara bersembunyi, tetapi poinnya adalah kesadaran akan perbedaan mana yang benar dan mana yang salah.

Remaja memang tidak akan dapat putih dari noda kenakalan. Hal ini sudah lumrah memang, tetapi ada baiknya kita melakukan observasi dan perbaikan pada kasus-kasus ini. Berkurangnya kegiatan-kegiatan aktif positif menjadi salah satu penyebab terjadinya. Dulu, anak-anak masih bermain berlarian ke sana dan kemari dan mudah dikontrol oleh siapa saja dewasa yang lalu lalang. Ketika ada seorang atau sekelompok anak yang melakukan kesalahan, orang dewasa yang menyaksikan masih bisa menegur dan atau menyampaikan kepada orangtua mereka. Orangtua masih lapang hati menerima dan turut menasihati anaknya. Kendati demikian terus terjadi, pengawasan masih dilakukan baik secara personal ataupun umum. Sehingga masih timbul rasa takut dan segan untuk melakukan kesalahan. Artinya, masih ada kontrol di sana.

Sedangkan masa sekarang, justru banyak orang yang telah kehilangan wibawa untuk sekedar menegur remaja atau anak-anak yang melakukan kesalahan. Anak 4 tahun sudah bisa mengajak teman lawan jenisnya untuk  praktek dewasa dengan sebutan “main” di sebuah taman bermain, anak remaja sudah melakukan hal-hal tidak senonoh di ruang-ruang terbuka; seperti di taman, dan bahkan di halaman rumah mereka sendiri. sekelompok remaja mengkeroyok remaja lainnya di gang sempit dimana masih ada orang dewasa yang lalu-lalang tetapi juga tidak bekutik, siswa siswa kelas VII memiliki whatshapp group yang isinya link, cerita, dan bahkan video porno, dan masih banyak kasus lainnya. Sangat mengerikan, lantas mengapa demikian?


freepik, medium shot kids in bed with smartphone


Anak sekarang jauh lebih pintar dari anak-anak zaman dulu. Saya selalu berkata: “kesalahan pada orangtua adalah selalu menganggap anaknya kecil dan memiliki keterbatasan dalam berpikir sesuai usia mereka”, faktanya, zaman sekarang ini sudah sangat dekat dengan berbagai informasi yang bebas saringan. Anak-anak dan remaja sudah memiliki media dan ruangnya sendiri. sebab itu, orangtua dituntut untuk lebih pintar dan menguasai kemajuan media.

pict by pressfotogroup of young asian people sitting in street and using smartphones

freepik, mother and daughter using tablet on couch 


Meskipun mereka terkesan anteng tetapi teruslah melakukan kontrol terhadap keluarga anda. Sadari tentang pikiran-pikiran sehat dan terbuka sehingga dapat membangun ketersalingan antara anggota keluarga. Tentu mengontrol prilaku dimulai dari rumah.  Sebagian pendapat mengatakan bahwa prilaku dibentuk dari sekolah dan lingkungan karena lebih banyak waktu digunakan untuk itu. Benar, tetapi persentase hak terbesar dalam pembentukan itu adalah rumah. Yang dapat melatih dan mengontrol tanpa batasan, dan mengapa kita sebagai orangtua juga tidak menyediakan waktu yang banyak juga untuk mereka?

Bicara tentang adab dan ahklak, moral dan etika. Kita adalah orang dewasa yang sudah menjadi orangtua di abad ini. Kitalah yang akan membentuk karakter masa depan, dengan kemajuan kita sesuai dengan yang telah kita hadapi. Jangan biarkan lagi generasi lepas control ini menjadi padang yang luas, sehingga kemanapun mata kia memandang, kita akan terus melihat kesalahan.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW juga mengatakan bahwa beliau diutus dengan tujuan menyempurnakan adab manusia. إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَتِمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik." (HR. Bukhari, Baihaqi, dan Hakim)

Adab adalah norma aturan mengenai sopan santun yang dilandaskan atas aturan agama yang digunakan dalam hubungan sosial antar manusia. Orang yang beradab adalah orang yang mengetahui aturan tentang adab itu sendiri. adab merupakan ahklak yang baik yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan moral adalah sebuah perangai dari watak yang menjadi tabiat. Tabiat-tabiat itulah yang akan muncul dalam bentuk prilaku. Manusia-manusia yang bermoral adalah manusia-manusia yang dalam tindakannya memiliki nilai positif. Moral sangat berhubungan dengan proses sosialisasi individu. Artinya, tanpa moral seseorang akan gagal daam melakukan proses sosialisasi. Moral merupakan suatu tata nilai yang menjadikan seorang manusia dapat berprilaku baik dan tidak merugikan orang lain.

Etika merupakan ilmu tentang sikap dan kesusilaan seseorang dalam lingkungan sosial. Etika merupakan sesuatu yang sangat terkait dengan prilaku baik yang dianggap benar.  Etika memiliki norma, kaidah, dan tatacara yang dijadikan pedoman untuk prilaku seseorang. Etika sangat dibutuhkan dalam hubungan sosialisasi bersama siapapun dan dimanapun. Tidak ada pengecualian untuk beretika.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa adab merupakan bentuk ahklak yang baik, sopan dan santun. Sedangkan moral adalah standar seseorang dalam berprilaku dan bernilai positif dehingga tidak merugikan oranglain. Etika merupakan  pedoman ilmu dalam bersikap.

Misalnya, seseorang yang beradab tentu akan bersikap sopan dan santun serta memiliki rasa malu jika melakukan kesalahan, itu sebabnya ia akan menunjukkan prilaku baik. Prilaku baik tersebut memiliki nilai moral karena tidak merugikan orang lain, tetapi sebaliknya. Ia justru memunculkan rasa nyaman dalam hubungan sosialisasi dan dihargai. Jikapun ia melakukan kesalahan, kemudian ia melakukan permintaan maaf dan mengakuinya, serta tidak mengulannginya lagi, itulah yang disebut beretika.

Jadi? Jadilah generasi yang selalu mengaitkan diri dengan dengan adab, norma, dan etika dan orangtua yang andil dalam membangun ketiganya, sehingga kita semua dapat mengontrol sikap dalam mengambil suatu keputusan, baik itu untuk diri sendiri, sosial, atau bahkan bernegara. Karena perubahan terjadi dari diri sendiri, dan perubahan besar akan terjadi dimulai dari kesadaran akan membedakan kebenaran dan kesalahan.

Zaman sekarang, pengaruh buruk sudah bertaburan dimana-mana. Sebab itu, kitalah yang paling harus mawas diri. Memiliki kesadaran dan pengukuran diri sangatlah penting. Miliki rasa malu, segan, dan hormat terhadap orangtua. Dan miliki rasa malu jika gegabah dalam bersikap sehingga hilang kontrol adab, norma, dan etika karena akan merusak generasi. Terus belajar memantaskan diri, dan kendalikan. Dengan demikian kita dapat memperbaiki generasi. Allah SWT selalu melihat apa-apa yang kita kerjakan.

Ilmu memanglah sangat penting untuk bekal dalam bekerjasama dan bersaing, memecahkan persoalan sehingga mampu memberikan solusi. Apapun cabang ilmunya, sesungguhnya memiliki manfaat yang berbeda-beda. Tetapi jangan pula membiarkan ilmu menguasai sesuatu yang lebih berharga dari dalam diri. Tanpa adab, norma, dan etika, ilmu tidaklah berarti apa-apa. Karena seseorang akan kehilangan harga dirinya, sekalipun ia pintar dan terkenal, jika sudah kehilangan ketiganya.


Cara Memilih Jurusan untuk Sekolah Lanjutan

Freepik, Architect making plan with laupe   Memilih jurusan sebenarnya bukan hanya untuk SMA yang mau masuk kuliah saja, tapi juga diperuntu...